Rischa Pramanix on #SuaraIbu, Melawan Stigma Buruk Ibu Bekerja dan Berjuang Melawan Matitis demi Sang Anak

Rischa Pramanix on #SuaraIbu, Melawan Stigma Buruk Ibu Bekerja dan Berjuang Melawan Matitis demi Sang Anak

Rischa Pramanix atau yang biasa disapa Icha adalah seorang Ibu dari buah hatinya yang masih berumur 2 tahun. Icha bekerja sebagai Graphic Designer. Lewat #SuaraIbu, Mba Icha membagikan cerita suka dan dukanya menjadi Ibu dengan perjuangannya mengurus anak sebagai Ibu yang bekerja dan pernah menderita mastitis. Berdasarkan dari pengalamannya, support dari suami adalah hal yang paling membantu Icha dalam menjalankan hari-harinya.

 

This is her journey…

 

Awalnya aku orang yang suka bebas, terus tiba-tiba punya anak yang kehidupannya harus aku jaga. Pertumbuhannya harus aku diperhatikan. Itu sebenarnya membutuhkan energi banget. Ada satu waktu yang aku harusnya bisa main, senang-senang, tapi harus menggendong anakku yang nangis. Anakku sekarang usianya 2 tahun, lagi aktif-aktifnya banget. Dia lagi pengen tahu semuanya dan aku juga mempersiapkan diri untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaannya yang bisa masuk nalarnya dia. Aku belajar itu sekarang. Sebenarnya agak berat tapi ternyata happy kalau kamu ikhlas.

 

Buat aku, kesulitan aku menjadi Ibu adalah ketika orang-orang berfikir ketika aku kerja kayak “kok lu kerja sih?”, “kok lu nggak sayang sama anak lu sih?”, “Kok lu ninggalin anak lu sama asisten rumah tangga?” dan segala macam. Itu sebenarnya berat banget. Aku sebagai orang tua pengennya ya bareng sama anakku terus, tapi ketika aku berhenti bekerja, siapa yang akan meneruskan harapan dan cita-citanya nanti? Aku bekerja untuk masa depan dia. Kalau aku gak bekerja terus suamiku nggak bekerja, apa yang bisa kita kasih untuk kehidupannya dia? Stigma itu tuh aneh aja menurutku. 

 

Cara aku mengatasinya aku sudah mulai berfikir “ya udah terserah orang mau ngomong apa” tapi di dalam perjalanan ku saat ini mungkin aku memang nggak bisa ngasih semua yang diharapkan sama anakku. Tapi suatu saat aku bakal selalu ada buat dia, jadi kita bersakit-sakit dahulu ya Nak nanti kita pasti bahagia bareng-bareng.

 

Sebagai Ibu, ada sesuatu yang aku sesali aku gak tahu dari awal. Jadi ketika anakku umur 1 bulan, aku bener-bener menyesal kenapa sih aku nggak nyari tahu ternyata ada yang namanya mastitis. Aku kena mastitis tuh bener-bener sampai demam. Ketika aku sembuh dari demam mastitis ternyata asiku enggak sebanyak  itu lagi. Aku minum semuanya, kayak ASI Booster, minum segala macam, dan aku makan asupan rekomendasi terus setiap hari supaya ASI ku tuh kembali. Tapi  ternyata memang tidak sebanyak sebelumnya. Mau gak mau tetep dibantu pakai susu formula. Aku tuh menyesal sampai sekarang tapi ya nggak ada lagi yang bisa aku lakuin.

 

For Moms who don’t know what is Mastitis. Here is the brief information about Mastitis…

 

Mastitis adalah peradangan pada jaringan payudara yang dapat disertai infeksi oleh bakteri Staphylococcus aureus atau bisa pula tidak disertai infeksi. Faktor yang mempengaruhi terjadinya mastitis adalah umur, paritas, gizi, riwayat mastitis, stress dan kelelahan, karakter dari payudara itu sendiri, dan trauma. Kebanyakan penderita mastitis terjadi dalam 6 minggu pertama dari kelahiran bayi, dan pada umumnya di minggu ke-2 atau ke-3. Mastitis memiliki resiko yang lebih besar pada kelahiran anak pertama karena wanita yang baru pertama kali melahirkan belum memiliki kekebalan tubuh terhadap bakteri penyebab mastitis. Biasanya, produksi ASI dari penderita mastitis menurun walaupun peradangan sudah sembuh. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012-2013, Ibu menyusui yang mengalami mastitis dan payudara bengkak mencapai 55%.

 

Back to her journey…

 

Sebenarnya, yang paling aku butuhkan Sebenarnya sih support dari suami, terutama karena dia orang paling terdekat sama aku. Dia selalu ada, kayak, “Ih kamu hebat loh”, “ih kamu terlihat banget sayang sama anakmu” dan terlihat banget support nya tuh kayak “sini gantian aku yang masak” atau “Eh aku mau bikin teh nih Kamu mau nggak?”. Saling ngebantu, bantu jaga anak saat salah satu terlihat capek. Support kaya gitu yang dibutuhin. 

 

Pesan aku untuk para Ibu di luar sana. Ibu itu kuat, ibu itu perhatian, ibu itu segalanya. Apapun yang orang bilang, apapun yang orang tunjukkan, apapun yang orang komentarin itu tetaplah jadi diri sendiri. Jadilah harapan dari versi terbaikmu, itu yang paling aku pengen ibu-ibu lain dengar. Terserah orang-orang mau banyak komentar apa. Tapi yang tahu anakmu, yang tahu dirimu sendiri, itu ya dirimu. Jadilah versi terbaik dari dirimu sendiri.

 

Pesan aku untuk anakku. Tumbuhlah dengan hati yang baik, milikilah harapan yang besar cita-cita yang luas, terus tumbuhlah sesuai dengan versi terbaik dari kamu Nak. Jangan pernah dengerin omongan orang yang nggak sesuai dengan harapanmu dan cita-citamu, ibu sama bapak selalu mendoakan, ibu sama bapak selalu ada. Terbanglah, terbang yang jauh!

 

Cerita Icha dapat juga ditonton melalui kanal berikut: #SuaraIbu Episode 1.

 

Reference:

Anasari, T., & S. (2014). FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN MASTITIS DI RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO. Jurnal Involusi Kebidanan, 4 No. 7, 40-52.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia. Agustus 2013; 159-171

Tinggalkan komentar

Komentar harus disetujui sebelum tayang