Diah Deir Zahrani, Ternyata Menyusui Tidak Semudah yang Aku Pikirkan

Diah Deir Zahrani, Ternyata Menyusui Tidak Semudah yang Aku Pikirkan

Diah Deir Zahrani, Deir sapaan akrabnya, adalah seorang Ibu dari anaknya yang berumur 2 bulan. Deir tinggal di Kota Malang bersama sang suami. Aktivitas Deir sehari-hari adalah bekerja di salah satu perusahaan startup teknologi. Saat ini Deir masih dalam cuti melahirkan dari bekerja.


Menurut Deir, ternyata menyusui tidaklah semudah yang dipikirkannya. Proses menyusui tidak sekadar memberikan ASI kepada bayi, tetapi juga belajar memahami tanda-tanda yang ditunjukkan setiap tangisan bayi. Begini kisah Deir menyusui untuk pertama kalinya…


Aku menyusui pertama kali di rumah sakit. Anakku lahir sore dan anakku dibawa ke kamar pada malam harinya dalam keadaan sudah bersih. Aku diajarkan sedikit cara menyusui oleh perawat. Perasaanku pada saat itu bingung dan khawatir. Apakah ASI-nya cukup? Apakah posisi menyusui sudah benar? Apakah anakku nyaman digendong olehku? Apalagi aku belum pernah menggendong bayi sekecil ini. Dan yang diluar ekspektasi aku, meskipun bayi tidak punya gigi, ternyata menyusui pertama kali itu tetap sakit ya.


Buatku, menyusui itu tidak mudah. Perlu latihan dan pengetahuan agar aku nyaman dan nutrisi bayi terpenuhi. Aku belajar dari bidan rumah sakit mengenai cara menyusui yang benar dan nyaman, mulai dari pelekatan, posisi menyusui, dan tanda dari bayi kapan dia haus. Aku dan suami juga baca-baca buku tentang merawat bayi baru lahir. Alat-alat menyusui juga membantu banget, seperti alat pumping, bantal menyusui, penampung asi, banyak deh!


Awalnya aku kaget banget, bayiku bangun dan menangis setiap setengah jam sampai satu jam sekali. Apakah ASI ku kurang? Aku tidak bisa tidur nyenyak di hari pertama, apalagi bayiku lebih sering bangun ketika malam. 


Aku sampai menangis frustasi karena tidak paham apa yang diinginkan anakku. 


Kurang tidur dan kurang darah akibat melahirkan membuat aku sakit kepala yang pada akhirnya sulit untuk fokus menyusui. Tapi saat bertemu perawat, kami diberitahu kalau lambung bayi itu kecil sehingga bayi mudah kenyang dan mudah lapar juga. Jadi, normal kalau bayi sering bangun karena frekuensi menyusuinya juga sering. Kata dokterku, apabila bayiku tidur, aku juga harus istirahat, karena mungkin aku tidak akan punya waktu istirahat lain selain saat bayiku tidur.


Menyusui ternyata tidak semudah yang aku pikirkan sebelumnya. Selain memberikan ASI kepada bayi, aku juga harus bisa memahami apakah bayiku nangis karena lapar, karena butuh ganti popok, atau hanya ingin dipeluk. Kalau aku salah memberikan tanggapan, bayi akan menangis semakin kencang dan aku juga semakin bingung. Menurutku penting banget sih untuk Ibu baru menghabiskan banyak waktu sama bayinya agar bisa memahami hal-hal tersebut. Aku sendiri masih belajar untuk bisa lebih memahami anakku. Buat aku sendiri, mengurus anak itu cara paling efektif untuk belajar sabar. Ketimbang merespon tangis anakku secara emosional, aku jadi lebih sabar dan memilih untuk observasi aja, kira-kira dia maunya apa.


Support dari orang-orang terdekat sangat membantuku di masa menyusui ini. Aku sangat bersyukur suamiku membantu untuk pegang anak ketika aku ke kamar mandi atau makan. Dia juga bantu membersihkan rumah. Aku juga bersyukur aku punya teman-teman yang siap mendengar keluh kesahku. Awalnya aku merasa gak siap kedatangan tamu karena aku lelah banget tapi ternyata kehadiran teman-teman membuatku terhibur. Jadi, menurutku jangan terlalu menutupi diri deh, karena mungkin orang-orang sekitarmu bisa membuatmu lebih tenang dan senang.


Aku baru melalui ini semua selama 2 bulan, jadi mungkin tips dariku tidak terlalu bijak atau yang gimana, tapi hal yang bikin aku semangat melalui ini semua adalah aku sadar bahwa masa-masa menyusui ini adalah investasi untuk kebaikan anakku nanti. Semua akan terasa lebih mudah dari hari ke hari. Penting juga untuk mengenali tubuh sendiri, nutrisi apa yang dibutuhkan. Kesehatan dan kebugaran Ibu ngaruh banget ke produksi ASI. So stay healthy Moms! Jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada pasangan baik dalam urusan bagi tugas ataupun sebagai emotional support


Gak perlu mencoba menjadi super-mom yang ngerjain semuanya sendiri. Anakmu butuh kamu Moms, dan kamu juga butuh orang lain membantumu.


Kurang-kurangin juga dengerin omongan orang hahaha. Selama kita tahu mana yang mitos dan mana yang fakta secara ilmiah, omongan orang jadi angin lalu aja deh!


Pesanku untuk putriku…


Kami harap apa yang kami berikan saat ini bisa membuatmu nyaman dan merasa dicintai. Jika kamu besar nanti, dan dunia mulai menunjukkan hal-hal yang tidak nyaman, kami harap kamu bisa tetap merasa nyaman dan dicintai di rumah ini dengan kami. Dan jika kamu sudah besar nanti kamu mulai melihat kami dengan mata yang lebih jelas, kamu akan lihat bahwa kami pun manusia dengan kekurangan juga, dan kami harap bahkan pada saat itu kamu pun masih bisa mencintai kami, orang tuamu yang terus belajar setiap hari untukmu.


Disclaimer

"Saya bukan dokter anak atau profesional kesehatan. Semua solusi yang saya sebutkan adalah untuk situasi saya setelah saya bertanya kepada dokter. Harap jangan menerapkan solusi saya secara langsung tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu."

Tinggalkan komentar

Komentar harus disetujui sebelum tayang